Foto:
Detikjurnal.com, Pacitan -Agenda tahunan Masyarakat lakukan kegiatan Thethek Melek, Thethek Melek merupakan tradisi unik mengusir pagebluk. Dalam ritual itu, masyarakat membunyikan berbagai aneka instrumen dari alat-alat pertanian dan kentongan sambil keliling area persawahan desa setempat
Masyarakat harus bergulat dengan wabah. tak hanya menularkan ke manusia, wabah juga menulari hewan. Untuk mengusir wabah-wabah tersebut, Masyarakat di Dusun Jarum, Desa Sukoharjo, kecamatan Pacitan menggelar tradisi Thethek Melek
Di Kabupaten Pacitan, yang memiliki karakter geografis perbukitan, pesisir, serta kultur agraris yang masih kuat, praktik-praktik tersebut masih dijumpai hingga kini
Kegiatan ini akan di laksanakan di penghujung tahun 2025 tepatnya pada 20/12/2025 di area sawah dusun jarum dan gubuk Songmeri desa Sukoharjo kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan pada pukul 12.00-22.00 wib
Thethek melek yang di kemas dalam Pertunjukan ini di dalam nya terdapat Instalasi hama, ritual thethek melek, jagong tari, melukis 1000 bengkok, pertunjukan dan pasar UMKM
Irwan Noerkhandiyo ketua SMSI Pacitan yang setiap tahun nya meliput acara kegiatan tersebut Mengatakan," Ya kegiatan ini merupakan langkah tahunan yang kental dengan adat lokal di kemas moderen dan apik, pesan moral nya sangat bagus," Ungkap Irwan Noerkhandiyo
Beragam ritual seperti penentuan waktu tanam berdasarkan pranatamangsa, pemasangan sesaji, bongkok sawah, hingga ritual tolak bala, selama ini dipahami sebagai kearifan lokal. Namun jika ditelaah lebih jauh, ritual-ritual tersebut menyimpan logika ekologis yang relevan dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) modern.
Dalam konteks pengendalian hama, pranatamangsa berfungsi untuk menghindari fase-fase kritis ketika populasi hama berada pada puncaknya. Salah satu praktik yang masih dipegang petani Jawa adalah menghindari penanaman dan pemupukan saat bulan purnama.
Secara ilmiah, fase bulan purnama berkorelasi dengan meningkatnya aktivitas reproduksi sejumlah serangga hama. Pada saat yang sama, tanaman padi yang baru pindah tanam atau sedang diberi pupuk berada pada kondisi stres fisiologis, sehingga rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
Ritual pemasangan sesaji juga memiliki dimensi ekologis. Sesaji yang terdiri dari makanan pokok, bunga, dan kemenyan, berkontribusi terhadap keseimbangan agroekosistem.
Bunga yang digunakan dalam sesaji berfungsi sebagai pemikat serangga musuh alami hama. Konsep ini sejalan dengan pemanfaatan tanaman refugia dalam pertanian modern, di mana kehadiran bunga berwarna-warni mampu menarik predator alami seperti laba-laba, kepik, tawon parasitoid, dan lalat predator yang efektif menekan populasi wereng, penggerek batang, dan hama lainnya(dnr)
#detikjurnal.com //#Thethekmelekpacitan
Reporter : Danur Suprapto
Editor : Ari isnanto
Share : 👇
Social Plugin